Di dunia tanpa batas, penerjemahan menjadi bagian penting dari komunikasi bisnis. Tingginya interaksi antara orang-orang dari latar belakang budaya dan kebangsaan yang berbeda, membuat keberadaan terjemahan yang akurat dan jelas menjadi semakin penting. Sayangnya, kurangnya standardisasi dan kesadaran akan pentingnya penerjemahan berujung pada beberapa pemahaman yang salah tentang proses penerjemahan. Salah satu yang paling sering ditemukan, dan bisa dibilang paling fatal, adalah asumsi bahwa jika Anda mengerti dua bahasa Anda dapat menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lainnya.

Pada prinsipnya, penerjemahan bukan hanya sekadar mengalihbahasakan sebuah teks. Terjemahan tetap merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk berhubungan dengan dan menarik minat pembaca. Oleh karena itu, sebuah terjemahan harus mampu menangkap pesan-pesan yang tersirat dalam teks aslinya dan menjangkau pembacanya.

Saat ini, banyak penerjemah cenderung menerjemahkan kata per kata. Masalahnya, setiap tulisan memiliki pesan tersurat dan tersirat. Berbeda dengan pesan tersurat yang disampaikan langsung melalui kata-kata, pesan tersirat biasanya disampaikan melalui pilihan kata, tone dan voice. Jika faktor-faktor ini tidak diperhatikan, teks hasil terjemahan tidak akan memberikan dampak yang sama seperti teks asli. Ambil contoh, beberapa kata dalam dalam bahasa Inggris memiliki arti yang sama, namun konotasinya berbeda. Kata ‘rumah’ dalam bahasa Indonesia sepadan dengan ‘house’ atau ‘home’. Dengan demikian, saat menerjemahkan kata ‘rumah’ ke dalam bahasa Inggris, penerjemah harus mempertimbangkan konteks tulisan. Apakah penulis mengacu pada bangunan rumah atau perasaan berada di rumah?

Akibat kurangnya komitmen atau pemahaman ini, banyak penerjemah gagal memahami konteks dari teks asli. Hal ini tentu menjadi masalah besar saat sebuah teks memiliki tujuan tertentu. Contohnya, sebuah teks marketing yang dirancang untuk menarik minat pasar. Sebuah teks marketing yang diperuntukkan bagi anak muda tentu akan ditulis dengan cara yang berbeda dengan teks pemasaran untuk pembaca yang lebih dewasa. Saat terjemahan gagal menyampaikan kata atau gaya yang tepat, maka target audiens tidak akan merasa nyambung dengan pesan yang disampaikan, meskipun mereka memahami pesan tersebut. Bayangkan iklan aplikasi music player yang menggunakan slogan “Let’s Dance!”. Dalam bahasa Indonesia, slogan ini dapat diterjemahkan menjadi “Ayo Berdansa!”. Meskipun secara teknis terjemahan tersebut sudah benar, kata ‘berdansa’ tidak umum digunakan anak muda Indonesia. Terjemahan sehari-hari seperti “Yuk, joged!” akan lebih familier bagi mereka.

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas, penerjemah perlu mengidentifikasi teks yang akan diterjemahkan. Apakah teks tersebut termasuk teks pemasaran, teks akademis, atau laporan perusahaan? Dengan begitu, penerjemah dapat memahami objektifnya. Teks pemasaran ditujukan untuk menarik perhatian pembaca. Untuk itu, gaya penerjemahannya harus disesuaikan dengan target pembacanya dengan memperhatikan gaya dan pesan tersirat yang terkandung dalam teks. Sementara, teks akademis biasanya bertujuan untuk memberikan informasi secara rinci. Untuk itu, terjemahan teks akademis harus konsisten dan akurat tanpa meninggalkan detil apa pun. Di sisi lain, laporan perusahaan bertujuan untuk menumbuhkan kepercayaan serta menyampaikan informasi penting tentang perusahaan. Penerjemah perlu menggunakan jargon yang tepat untuk menunjukkan keahlian penulis ketika menyampaikan pesan dengan cara yang paling efektif.

Penerjemah juga perlu melakukan penelitian untuk memahami aspek teknis sebuah teks. Saat menerjemahkan teks dari bidang industri yang begitu teknis, penerjemah perlu menguasai bahasa yang biasa digunakan dalam industri tersebut. Bayangkan Anda menerjemahkan artikel untuk perusahaan pembiayaan infrastruktur yang berisikan analisis kondisi industri saat ini. Artikel tersebut bertujuan untuk menunjukkan keahlian perusahaan dalam pembiayaan infrastruktur. Tanpa mengerti gambaran besar dari industri tersebut, penerjemah tidak dapat menerjemahkan secara akurat analisis yang ingin disampaikan. Tanpa penelitian yang cukup, penerjemah akhirnya menggunakan jargon yang tidak familier. Hal ini tentu dapat merusak reputasi perusahaan. Untuk itu, penelitian sangat penting dalam proses penerjemahan.

Dalam proses penerjemahan, setiap konteks kata perlu diperhatikan. Dengan demikian, sangat penting untuk membaca keseluruhan kalimat, bahkan paragraf untuk mengerti keutuhan pesan yang ingin disampaikan. Langkah selanjutnya adalah menulis kembali pesan tersebut dalam bahasa target. Melalui proses ini, struktur terjemahan yang dihasilkan mungkin akan sangat berbeda dari teks asli, namun hal itu wajar. Perlu diingat bahwa Anda menerjemahkan konsep, ide, dan gagasan, bukan kata-kata, kalimat, atau paragraf semata.

oleh Dimas Anggara